Konsep Latihan Pernapasan yang benar dimulai dari pemahaman bahwa bernapas di dalam air adalah kebalikan dari bernapas di darat. Di darat, kita sering bernapas melalui hidung secara refleks. Namun, di dalam kolam, perenang harus membiasakan diri untuk mengambil udara melalui mulut dengan cepat dan membuangnya melalui hidung secara perlahan di bawah air. Di bawah bimbingan instruktur di Bogor, para pemula diajarkan teknik bubbling, yaitu meniupkan udara secara konsisten melalui hidung hingga menciptakan gelembung-gelembung kecil. Teknik sederhana ini adalah fondasi untuk menjaga tekanan di dalam rongga hidung agar air tidak masuk dan menyebabkan rasa perih yang mengganggu.
Agar latihan ini menjadi Efektif, perenang pemula harus melatih ritme. PRSI Bogor menekankan bahwa kunci dari ketahanan berenang jarak jauh bukanlah kekuatan otot semata, melainkan efisiensi oksigen. Jika seorang perenang menahan napas terlalu lama di bawah air, karbondioksida akan menumpuk di dalam paru-paru, yang memicu rasa sesak dan keinginan mendadak untuk naik ke permukaan. Dengan latihan rutin, perenang diajarkan untuk membuang napas secara bertahap (ekshalasi kontinu) sehingga saat kepala keluar dari air, paru-paru sudah dalam keadaan kosong dan siap menghirup oksigen baru secara maksimal dalam waktu singkat.
Metode yang diterapkan oleh PRSI Bogor juga mencakup aspek ketenangan mental. Banyak orang gagal mengatur napas karena rasa takut akan air. Oleh karena itu, latihan pernapasan sering kali dimulai di kolam dangkal di mana perenang merasa aman. Instruktur akan mengajak perenang untuk melakukan gerakan menyelam santai sambil menghitung durasi embusan napas. Dengan mengubah persepsi dari “bertahan hidup” menjadi “menikmati air”, hambatan psikologis yang sering membuat napas menjadi pendek dan cepat dapat dihilangkan secara perlahan namun pasti.
Bagi seorang Perenang Pemula, penguasaan napas samping dalam gaya bebas sering kali menjadi momok. Di sini, teknik rotasi tubuh sangat menentukan. Pelatih di Bogor mengajarkan bahwa kepala tidak boleh diangkat terlalu tinggi karena akan merusak posisi tubuh (body position). Sebaliknya, kepala hanya perlu diputar sedikit hingga satu mata masih berada di dalam air. Dengan posisi ini, mulut dapat mengambil udara dengan efisien tanpa harus menghentikan momentum luncuran. Latihan koordinasi antara kayuhan tangan dan pengambilan napas ini memerlukan repetisi yang tinggi agar menjadi memori otot yang otomatis.
