Gaya kupu-kupu (butterfly) dikenal sebagai gaya renang paling menantang dan paling indah, menuntut kekuatan, timing yang sempurna, dan yang terpenting, Sinkronisasi gerakan yang presisi. Kunci efisiensi dalam gaya kupu-kupu terletak pada kemampuan perenang untuk mencapai Sinkronisasi antara tarikan lengan yang kuat, dorongan kaki lumba-lumba (dolphin kick), dan gerakan gelombang tubuh (undulation). Tanpa Sinkronisasi yang mulus, renang kupu-kupu akan terasa berat dan membuang-buang energi. Oleh karena itu, drill atau latihan spesifik menjadi cara terbaik untuk menguasai irama kompleks yang dibutuhkan gaya ini.
Salah satu drill paling efektif untuk melatih Sinkronisasi adalah “One Arm Butterfly” (Kupu-kupu Satu Lengan). Dalam drill ini, perenang hanya menggunakan satu lengan untuk pull dan recovery (kembali ke depan), sementara lengan yang lain direntangkan lurus di depan sebagai penyeimbang. Fokusnya adalah memastikan dolphin kick (gelombang tubuh) terjadi dua kali untuk setiap kayuhan satu lengan: sekali saat lengan didorong ke belakang, dan sekali lagi saat lengan diangkat ke depan (recovery). Latihan ini secara eksplisit memaksa perenang untuk merasakan hubungan antara gerakan inti tubuh dan dorongan maju, memperbaiki timing tanpa terbebani oleh kebutuhan timing dua lengan.
Drill penting lainnya adalah “Dolphin Kick on Side” (Tendangan Lumba-lumba Sambil Miring). Drill ini membantu perenang merasakan dan memperkuat gelombang tubuh yang berasal dari dada dan pinggul, bukan dari lutut. Dengan berenang miring ke satu sisi, perenang harus bekerja lebih keras untuk menjaga posisi streamline sambil melakukan dolphin kick. Gerakan ini krusial karena gelombang tubuh yang benar harus dimulai dari kepala, turun ke dada, perut, dan diakhiri dengan cambukan kaki yang kuat, yang membentuk dasar untuk Sinkronisasi dengan tarikan lengan yang akan datang.
Penerapan drill intensif seperti ini memerlukan lingkungan kolam renang yang aman dan terstruktur. Dalam sebuah sesi pelatihan intensif yang dilaksanakan di Kolam Renang Internasional Teratai, pada Sabtu, 21 Juni 2025, semua perenang wajib mengikuti protokol keselamatan. Pelatih menetapkan bahwa setiap set drill kupu-kupu harus diikuti dengan jeda istirahat minimal 45 detik untuk pemulihan, guna mencegah kelelahan otot yang dapat menyebabkan kram. Selain itu, Kepala Keamanan Kolam Renang, Bapak Subekti, bekerja sama dengan Kepolisian Sektor (Polsek) Bidang Kesehatan dan Keselamatan pada 15 Mei 2025, untuk memastikan bahwa kolam tersebut menyediakan jalur renang yang cukup lebar (minimal 2,5 meter) untuk drill kupu-kupu, sehingga gerakan recovery lengan yang lebar tidak membahayakan perenang di jalur sebelahnya.
